Sejarah GS1 Indonesia

1992

Diprakarsai oleh rasa nasionalisme dan peduli terhadap pengembangan logistik dan jalur perdagangan di Indonesia, Yayasan Codex Universalis terbentuk sebagai Dewan Nomor Produk EAN Indonesia (DNPI). Dengan susunan Badan Pengurus sebagai berikut: Ketua Umum: Almarhum Bapak Roesmin Nurjadin, Wakil Ketua Umum: Bapak Sukardi, Ketua: Almarhum Bapak H.Suharnoko Harbani, Sekretaris: Bapak Sobirin Misbach dan Bendahara: Almarhum Bapak Arifin Saroji, dan DNPI itu pun diketuai oleh Almarhum Ir. Kusudiarso Hadinoto.

1993

Dengan “Letter of Acknowledgement“ dari EAN International pada tahun 1993 dan surat Menteri Perdagangan Republik Indonesia tertanggal 23 Juli 1992 mengenai dukungannya terhadap sistem EAN.UCC, Yayasan Codex Universalis secara resmi telah menjadi kepanjangantangan dari EAN International (European Article Number Association) yang berpusat di Brussels, Belgia.

1994

EAN International menunjuk yayasan dengan memberikan surat “Letter of Appointment“ kepada yayasan yang lebih menegaskan bahwa Yayasan Codex Universalis/EAN Indonesia telah diakui keberadaannya dan memegang hak atas penomoran sistem EAN.UCC di Indonesia.

1995

Tahun ini merupakan tahun “expose“ bagi yayasan dengan menyelenggarakan seminar pertamanya yang mengikutsertakan pembicara dari EAN Australia, Barcode Industries Singapore dan Bapak Ipung Kurnia, Presiden Direktur Hero Supermarket.

1996

Yayasan Codex Universalis/ EAN Indonesia menjalin kemitraan dengan UCC (Uniform Code Council) yang berpusat di Ohio, Amerika Serikat.

1997

Melalui surat keputusan Departemen Kehakiman Republik Indonesia Dirjen Hak Cipta, Paten dan Merek, pada tanggal 3 Januari 1997 Yayasan Codex Universalis mendaftarkan hak paten atas logo EAN Indonesia.

1998

Merupakan tahun yang sulit untuk seluruh bisnis di Indonesia. Banyak perusahaan di Indonesia yang tutup atau stop produksi atau pindah ke negara lainnya.

1999

Situs EAN Indonesia www.ean.or.id diluncurkan. Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan informasi secara efektif kepada para anggota dan agar dapat diakses oleh masyarakat internasional yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai EAN Indonesia.

2000

Yayasan mulai aktif melakukan seminar-seminar, promosi, keikut sertaan pameran, program profesional, serta kunjungan dan menjalin kerjasama sinergi dengan beberapa bank nasional. Komunitas situs EAN Indonesia semakin berkembang dan menarik banyak calon anggota.

2001

Pada tahun ini pula Yayasan Codex Universalis menjadi anggota dari Electronic Commerce Code Management Association (ECCMA) yaitu badan yang mengatur nomor pengkodifikasian kategori produk.

2005

Uniform Code Council (UCC) dan European Article Numbering (EAN) melakukan kesepakatan untuk melebur menjadi satu organisasi dan merubah nama organisasi menjadi GS1 (Global Standard One). Tahun tersebut juga dinamakan “Sunrise Date“. Oleh karena perubahan nama tersebut, EAN Indonesia juga berubah nama menjadi GS1 Indonesia.

2006

GS1 Indonesia mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah Asia Pacific Regional Forum 2006 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali. Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 50 peserta dari 18 negara.

2007

GS1 Indonesia berhasil mendapatkan izin frekuensi dari Dirjen Postel R.I, untuk digunakan bagi kepentingan dunia perdagangan yang menggunakan teknologi RFID (Radio Frequency Identification) di Indonesia. Adapun alokasi frekuensi untuk RFID/EPC di Indonesia adalah 923 - 925 Mhz.

2008

GS1 Indonesia dibawah pimpinan manajemen baru lebih memfokuskan diri pada pengembangan dan penyebaran GS1 system di Indonesia agar dapat diaplikasikan dan digunakan diseluruh sektor industri.

2010

GS1 Indonesia dalam rangka ekspansi bisnis, telah membuka tiga (3) kantor cabang dikota Bandung, Semarang, dan Surabaya. Kota-kota lain yang dirasa memiliki potensi tidak menutup kemungkinan dilakukannya hal yang sama.

2012

Melakukan pendekatan kepada badan regulator/pemerintah untuk sosialisasi GS1 system guna meningkatkan efisiensi, visibility and connectivity pada jalur supply.

Melakukan sosialisasi GS1 system melalui kerjasama dengan akademisi/universitas dengan memberikan kuliah umum/seminar kepada para mahasiswa dengan harapan pada saat terjun kedunia usaha mereka sudah tahu adanya standar global yang berlaku pada dunia perdagangan dan supply chain.

2013

GS1 Indonesia melakukan kerjasama dengan universitas terkemuka di Indonesia untuk melakukan sosialisasi GS1 System. Perayaan 40 tahun GS1 System bertepatan dengan perayaan 20 tahun GS1 Indonesia.

2014

GS1 Indonesia dan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI) menandatangani perjanjian kerjasama pertukaran data untuk mendukung program pengecekan status ke-Halal-an suatu produk melalui proses pemindaian barcode GS1 System pada kemasan produk.

GS1 Indonesia mempunyai Supply Chain Laboratorium untuk mendukung pelatihan GS1 System.

2015

GS1 Indonesia mendampingi bapak Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan R.I dan beberapa staff nya dalam rangka kunjungan studi banding ke Korea Selatan untuk melihat sistem pengawasan barang beredar yang sedang dijalankan oleh pemerintah Korea Selatan dengan bekerjasama para retailernya dan GS1 Korea. Pada acara tersebut dilakukan kunjungan ke beberapa retailer besar di Seoul untuk melihat secara langsung proses pencegahan penarikan barang yang dinyatakan berbahaya oleh pihak produsen maupun pemerintah yang sudah terlanjur masuk ke retailer terjual di kasir atau point of sale.

2016

GS1 Asean Member Organisation

Menjadi tuan rumah rapat koordinasi yang diselenggarakan pada bulan April dan dihadiri oleh 5 negara anggota GS1(GS1 Asean Member Organisation). Agenda kegiatan ini adalah saling koordinasi dan update perihal kegiatan dari setiap anggota, mulai dari kerjasama dengan badan regulator setempat sampai bentuk implementasi standar GS1 yang sudah dijalankan di masing-masing negara.

GS1 Indonesia membangun aplikasi yang dapat digunakan untuk scanning barcode produk-produk anggotanya melalui smartphone. Dengan aplikasi ini diharapkan masyarakat Indonesia akan lebih mudah mengetahui produk-produk yang aman untuk digunakan. Sedang anggota GS1 Indonesia akan lebih mudah mempromosikan produknya.