Serialisation & Track and Trace Regulation pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia 2018

 

Pekanbaru, 19-21 April 2018 - Pertemuan ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Ikatan Apoteker Indonesia dengan tema : Trusted Pharmacist for a Better Quality of Life, dimana pada tahun 2018 ini bertepatan dengan pergantian kepengurusan baru yang sebelumnya di pegang oleh Bapak Nurul Falah selaku Ketua Umum Pengurus Pusat IAI. Selain itu, forum pertemuan ini berisi kegiatan ilmiah yang antara lain berupa Keynote Speech, Plenary Lecture, Workshop, Simposium, Presentasi Ilmiah Oral dan Poster, dan Pameran Industri, serta pemberian penghargaan bagi Pemakalah/ penelitian terbaik dan praktisi farmasi terbaik.

Acara ini di hadiri oleh +-2.000 peserta yang terdiri dari : Apoteker dari berbagai institusi, Klinik, Puskesmas, Rumah Sakit, Pedagang Besar Farmasi (Distributor), Industri Farmasi, Perguruan Tinggi Farmasi, Pemerintah dan lain lain. Kegiatan ini juga mengundang mahasiswa tingkat profesi apoteker, mahasiswa program magister dan program doctor serta public. Di dalam kegiatan ini juga terdapat berbagai kegiatan ilmiah lainnya seperti : Keynote Speech, Plenary Lecture, Workshop, Simposium, Presentasi Ilmiah Oral dan Poster dan Pameran Industri serta pemberian penghargaan bagi Permakalah/Penelitian terbaik dan praktisi farmasi terbaik.

Acara dibuka langsung oleh Maura Linda Sitanggang (Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan). Maura Linda menyampaikan paparan mengenai perhatian dari pemerintah terkait TBC, Gizi dan Imunisasi serta pentingnya Bidang Pelayanan Kesehatan untuk dapat beradaptasi dan bergerak active dalam perkembangan teknologi dan informasi pada saat ini. Selain itu pula, Norma Hidayati (Deputi 1 Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif, BPOM) juga membuka acara dan menjelaskan perihal pentingnya produk local memiliki daya saing terhadap produk luar negeri dimana jaminan kepastian mutu yang dimiliki suatu produk sangat penting, serta perlunya pengawasan terhadap produk yang dijual secara online bak oleh pemerintah maupun masyarakat selaku konsumen juga harus cerdas dalam membeli dan konsumsi produk terutama produk obat.

GS1 Indonesia pada kegiatan ini sebagai narasumber pada simposium terkait pembahasan Serialisation & Track and Trace Regulation bersama dengan BPOM yaitu Roby Darmawan, Kimia Farma yaitu Tia Mutianingsih, dan Etronikah yaitu Hindra Hindarsah. Symposium ini dihadiri 100 peserta yang di dominasi oleh Industri Farmasi.

Pada simposium tersebut membahas mengenai regulasi yang akan di keluarkan oleh BPOM terkait Sistem Track and Trace dimana akan menggunakan media pembawa data simbologi 2D pada kemasan dengan kode serialisasi yang bisa di dapat dari BPOM (bagi Industri yang belum memiliki keanggotaan di GS1) dengan melakukan pengajuan ke BPOM dua minggu sebelum melakukan produksi (perbets/kode produksi) atau dapat menggunakan sistem mandiri yang diakui secara Internasional (GS1).

Diharapkan dengan paparan yang disampaikan oleh Okkeu Rachmat Solichin, COO GS1 Indonesia dapat membantu anggota GS1 Indonesia yang akan menerapkan sistem mandiri untuk dapat lebih paham terkait bagaimana mengimplementasi sistem GS1 dan dapat meyakinkan perusahaan yang belum menjadi anggota untuk dapat memiliki sistem mandiri.

Dan kerjasama ini dapat menjadi pembuka untuk kerjasama lainnya dengan Ikatan Apoteker Indonesia dalam rangka sosialisasi dan pemahaman manfaat implementasi sistem GS1 pada sektor kesehatan yang khususnya di bidang Apoteker.