Saling Berinteraksi Tanpa Batasan Akses(Interoprability) pada Ekonomi Digital

 

Industri Teknikal

"Tanpa interoperabilitas, sedikitnya 40% potensi manfaat dari Internet tidak dapat direalisasikan. Penggunaan open standard adalah satu jalan untuk menyelesaikan interoperabilitas"

Industri pertahanan, mesin, energi, tranportasi massal, dan pertambangan ‐ semua adalah industri teknikal yang berhadapan dengan tantangan yang sama seperti tekanan biaya, pemalsuan, dan berlomba untuk mendigitalkan dunia fisik mereka. Mereka saling berbagi kebutuhan untuk proses yang transparan untuk mengoptimalkan supply chain mereka sebagaimana bahan baku dan suku cadang memasuki lingkungan produksi; di proses, dirakit dan dikemas; lalu kemudian keluar sebagai barang jadi untuk dikirim ke lokasi customer. Mereka harus melindungi terhadap suku cadang palsu yang dapat menyusup ke dalam pabrik mereka, operasi perawatan dan perbaikan, serta aftmarket sales. Dan sebagaimana digital factory mereka berkembang, industri teknikal harus mengurangi keruwetan pada proses intralogistics mereka‐ menghubungkan mereka dengan cara terstandar untuk mendorong interoperabilitas adalah hal yang wajib untuk proses operasional yang menguntungkan. Dalam laporan Internet of Things, McKinsey menyimpulkan, "tanpa interoperabilitas, sedikitnya 40% potensi manfaat dari Internet tidak dapat direalisasikan. Penggunaan open standard adalah satu jalan untuk menyelesaikan masalah interoperabilitas"

Dimulai dengan identifikasi

Sebuah persyaratan untuk interoperabilitas melalui seluruh proses adalah standar GS1 yang secara unik mengidentifikasi bagian individu, produk, dan pengiriman untuk hampir secara real time dipantau sepanjang supply chain dan di ,aftermarket sales services. Dengan mengkodekan nomor seri GS1 Global Trade Item Number (SGTIN) kedalam barcode GS1 pada label suku cadang, seluruh mitra bisnis dapat memverifikasi keaslian dari suku cadang tersebut. Pada sektor otomotive, ATE Continental menyelamatkan konsumennya, mitra bisnis dan pemalsuan terhadap merek suku cadang dengan menggunakan sebuah SGTIN (Serialized Global Trade Item Number), dikodekan kedalam barcode DataMatrix pada masing-masing suku cadang. Bengkel mobil dan retailer dapat menscan barcode ‐ menggunakan ATE's smartphone app atau akses internet‐ untuk memverifikasi keasliannya. Dengan identifikasi individual, proses order hingga pembayaran secara signifikan disederhanakan. Kesalahan menjadi berkurang atau bahkan dapat dihilangkan sejak tingkat identifikasi yang ringkas menghilangkan cara kira‐kira atau tebakan untuk manufaktur mengenai produk yang sedang diorder. Pada saat suplier menyiapkan pengiriman order, GS1 Serial Shipping Container Code (SSCC) mengidentifikasi unit logistik bersama dengan dengan masing‐masing suku cadang (SGTIN). SSCC menyediakan suplier dan manufaktur kemampuan untuk mentrack pengiriman, pada setiap tahap perjalanan. Pada saat pengiriman tiba, manufaktur menscan SSCC untuk mengkonfirmasi penerimaan unit logistik dan keaslian suku cadang didalamnya. SGTIN dapat juga dimasukkan kedalam berita pengiriman, memungkinkan manufaktur untuk menghemat waktu pada saat menerima, menyimpan dan akhirnya pengiriman produk jadi kepada pelanggan.

Lenze, sebuah perusahaan engineering menggunakan SSCC, dikodekan kedalam GS1‐128 barcode yang dicetak pada label logistik GS1, untuk memperoleh visibilitas dari pengiriman keluar. Lenze saat ini melakukan tracking pengiriman dengan sistem yang baru, menyediakan pelanggan diseluruh dunia informasi status terkini dari kedatangan pengirimannya.

Penghubung yang Cerdas

Perusahaan dengan kebutuhan, pasar, dan proses berbeda dapat menggunakan standar GS1 untuk saling interoprate dan berbagi informasi lebih baik untuk peningkatan proses yang signifikan. Sebagaimana suku cadang dan bahan baku dirubah menjadi barang jadi, standar GS1 dapat mendukung komunikasi mesin‐ ke‐mesin untuk mengotomatisasi proses antar perusahaan dan intralogistik untuk mendapatkan efisiensi yang hebat dan penghematan biaya. Standar GS1 yang digunakan adalah lot GTIN, GTIN dan SGTIN yang secara unik mengidentifikasi lot atau batch dari bahan baku, produk, dan suku cadang masing‐masing. Dibuat dan diatur oleh supplier pada titik asal, standar-standar tersebut memungkinkan penggunaan secara tepat dan efisien pada produk primer sebagaimana produk dipindahkan dan dirubah pada supply chain. Ini khususnya sangat penting karena pabrik mengalami perubahan proses dari manual menjadi digital menggunakan Internet of Thing(IoT). Siemen dan Bosch menciptakan pabrik berbasis digital, dimana individu produk, suku cadang dan, mesin-mesin semuanya berkomunikasi didalam sebuah IoT dan secara kooperatif mendorong produksi. Untuk menjamin interoperabilitas diantara entiti yang berbeda, Bosch sudah memulai untuk mengadopsi standar GS1 didalam proses internalnya dengan pertimbangan akan memperoleh keuntungan secara ekonomi. Faktanya, laporan McKinsey memperkirakan pabrik akan memperoleh manfaat sekitar €1.1 sampai €3.3 trillion ($1.2 hingga $3.7 trillion) pada potensi ekonomi 2025. Standar GS1 dapat menyediakan identifikasi yang dibutuhkan untuk digital factory. Manajemen persediaan juga secara signifikan meningkat sejak supplier dan manufaktur sekarang dapat dengan mudah mengenali produk dan suku cadang yang ada, khususnya untuk operasi perawatan dan perbaikan dan aftermarket sales. Standar GS1 yang lain yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi asset adalah GIAI (Global Individual Asset Identifier) dan GDTI (Global Document Type Identifier) yang secara unik mengidentifikasi dokumen sehingga dapat membantu untuk menyelaraskan seluruh aftermarket sales dengan proses service.

Trafikverket, Badan Pemerintah di Swedia yang bertanggung jawab pada sektor transportasi, secara efektif melakukan tracking kendaraan pada rel dan berbagi data lalu lintas rel untuk operasi yang aman dan efisien. Menggunakan GS1 GIAI yang dikodekan didalam tag EPC/RFID untuk secara unik mengidentifikasi individu kendaraan atau alat transportasi, dan GLN (Global Location Number) untuk menandai lokasi kendaraan. Standar EPC GS1 memungkinkan Trafikverket untuk berbagi informasi dengan operator rel yang lain, perusahaan infrastruktur bahkan pemilik cargo mengenai lokasi fisik dan pergerakan individu kendaraan rel dan seluruh kereta yang berjalan antar negara. Trafikverket mempunyai rencana untuk mendalami penggunaan nomor serial GS1 pada material jalan kereta yang tetap maupun yang berputar untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi pada perawatan. Dengan menggunakan standar GS1 sebagai pondasi menyediakan banyak jalan bagi industri teknikal untuk mencapai prioritas mereka melalui proses digital.

Pelajari bagaimana standar GS1 dapat membantu anda untuk memperoleh efisiensi, melawan pemalsuan dan lain-lain. Kunjungi www.gs1.org atau hubungi info@gs1id.org

Sumber : GS1
Ditulis kembali oleh : Sri Suhartati